Tuesday, January 29, 2008

Starting 29 Jan 2008 Jo's blog has moved to http://www.mencintaijo.wordpress.com

Read more!

Monday, January 28, 2008

Saturday Morning

Hupff…kasur nyamanku segera saja melesak membungkus tubuhku yang jatuh dengan tingkat kepasrahan yang paling tinggi. Kupejamkan mataku sambil berusaha mengosongkan isi kepalaku dan membiarkannya beristirahat setelah seharian ini kupaksa untuk berkerja keras sekeras jaman penjajahan dulu. Hhh...untung besok hari sabtu, pikirku tenang.

Lima menit… (aku mulai merasakan darah mengalir pelan di sekujur tubuhku)

Sepuluh menit… (aku mulai merasakan hening, hanya ada suara desau angin mengusik daun di ranting pohon depan kamarku)

Lalu…sekejap saja aku tidak teringat apapun lagi....

Uughh...kubuka mataku...silau...aduuuhhh, siapa sih nih, pagi-pagi udah buka gorden...kurentangkan kedua tanganku jauh ke atas kepala...mmmhh....

“Selamat pagi sayang.” Tiba-tiba suara seseorang yang akrab ditelingaku melangkah masuk menghampiriku sambil membawa nampan berisi setangkup roti dan secangkir kopi kesukaanku.
“Renee!!! Kapan pulang?” Rasa kantuk hilang seketika berganti kegembiraan. Tubuhku otomatis bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Renee.
“Eeh..eh...hati-hati dong Jo, tumpah semua nanti nih.” Renee sibuk mempertahankan keseimbangannya saat tanganku siap memeluknya. “Ditahan dulu ya kangennya....” canda Renee sambil meletakkan nampan itu di atas ranjang sambil tersenyum jahil. Aku hanya tersenyum dan mengambil setangkup roti yang telah disediakan oleh bidadariku.

Renee memperhatikanku mengunyah rotiku dengan nikmat. Kusodorkan kepadanya,” Mau ?“ tawarku. Renee menggeleng ringan. “Ya sudah, kalau tidak mau, aku habiskan sendiri.” Kataku lagi sambil menghabiskannya tanpa memberi kesempatan kepada Renee untuk bicara.

Setelah habis kusantap roti buatan renee, kupeluk tubuh Renee dengan tiba-tiba dan membuat Renee terkejut dan tidak sempat menghindar dari diriku. “Kapan kamu pulang, sayang?” Aku berbisik di telinganya. Hhmm...harum aroma tubuh Renee yang alami langsung saja membuat jiwaku segar. “Kenapa kamu ga ngabarin aku? Aku kangen sekali.” Kataku sambil mempererat pelukanku di tubuhnya.

“Aku mau kasih kejutan buat kamu. Aku pulang semalam. Pas aku hampiri kamu di kamar, aku liat kamu sudah pingsan kaya kalah perang,hehehe...” Sahut Renee sambil membelai kepalaku lembut. Tangan ini...tangan yang selalu menenangkan diriku di saat sesulit apapun keadaanku, hhmm...kupejamkan mataku dan kunikmati setiap belaiannya.

“ Lain kali aku ga mau nemuin kamu tidur dalam keadaan kaya semalam lagi ya!” Katanya sambil melepaskan pelukanku dan menatap wajahku. Kutampilkan tatapan polos berusaha mencoba mencerna kalimat yang baru saja dilontarkannya.
“Keadaan kaya semalam? Pingsan kaya kalah perang?” tanyaku polos dan menyadari pakaian kerjaku sudah berganti dengan piyama kesayanganku.
“Bukan gitu. Kamu semalam tidur ga ganti pakaian dulu. Sepatu masih lengkap. Aku sampai bingung...bisa-bisanya kamu tidur nyenyak padahal kamu masih belum bersihin muka dan badan.” Renee menjelaskan kepadaku sambil mengambil cangkir kopi dan memberikannya padaku.
Kuambil cangkir itu dan menyesapnya sedikit. “ Aku letih banget semalam. Habis disiksa habis-habisan sama Pak Erwin. Presentasi di depan klien yang bawelnya setengah mampus.” Kataku sambil membereskan nampan dari atas ranjangku. Renee membantuku membereskan tempat tidur yang sekarang baru kusadari ternyata bagian di sebelahku terlihat sedikit berantakan, menandakan semalam Renee tidur di sampingku. Sedikit rasa penyesalan timbul di hatiku karena tidak menyambut kepulangannya.

Puas memandangi hasil kerjanya terhadap tempat tidur kami, Renee kemudian berpaling kepadaku.
“ Seletih apapun, kamu kan bisa cuci muka dulu. Mandi dulu pakai air hangat. Sikat gigi dulu...” Kuredam semua kata-katanya dengan bibirku. Kucium lembut bibirnya. Lamat-lamat kata-kata Renee terhenti dan kurasakan bibirnya membuka membalas ciumanku hangat. “ Aku lupa sesuatu, Jo...” Renee tiba-tiba melepaskan bibirnya pelan. Sedetik kucoba meraih kesadaranku yang sempat hilang dan menatapnya bertanya-tanya. “ Kamu kan baru bangun dan belum sikat gigi, Jo. “ Katanya sambil tertawa berlari keluar kamar menghindari diriku yang siap menerkamnya kembali.

Ku ambil handuk dan segera saja menghabiskan waktu selama 15 menit di dalam kamar mandi sambil melatih vokalku yang kalau saja juri Indonesian Idol mendengarnya, aku yakin mereka akan langsung menyembunyikan diri di bawah kolong mejanya. Setelah selesai dengan ritual pagiku, kuhampiri Renee yang sedang duduk di sofa teras depan rumah. Ku ambil posisi di sampingnya. Kukecup pipinya ringan. Renee tersenyum dan menggeser memberikan tempat bagiku.

Berdua, kami menatap halaman rumah yang penuh dengan pohon dan tanaman yang semakin rindang dan beraneka ragam. Kami bersandar santai, berusaha menikmati keheningan pagi yang sejuk. Kurangkul tubuh Renee.

“ Kamu tau apa yang sedang kupikirkan, sayang?” bisikku lembut takut merusak keheningan yang indah ini. Renee menoleh, menatap mataku. “ Setiap malam...saat aku pulang ke rumah ini...saat jiwaku dipenuhi rasa lelah...aku begitu kesepian...dadaku terasa sesak memikirkan dirimu yang berada begitu jauh dariku...membayangkan tanganmu membelai kepalaku sampai aku tertidur dalam pelukmu...hatiku seperti teriris pisau tajam.” Lanjutku sambil memeluknya erat.

Renee masih terdiam memberiku kesempatan untuk melanjutkan kata-kataku. “ Sering aku berpikir...berandai-andai...andai saja dulu aku tidak bertemu kamu...mungkin aku tidak akan merasakan sakit di dada ini. Andai saja kita tidak pernah saling kenal...mungkin aku tidak akan sulit membayangkan dirimu yang berada jauh di sana...” Kugenggam jemarinya. Kubawa dekat ke bibirku. “ Memikirkan aku tidak menyambut kepulanganmu semalam, membuat aku merasa tidak dapat membahagiakanmu dengan waktuku.”

“Sshh...jangan lanjutkan lagi, Jo.” Renee meletakkan jari telunjuknya dibibirku. “Pernahkah kamu melihat dari sudut pandang yang berbeda, Jo?” tanyanya sambil menarik tanganku, menambah erat pelukanku pada tubuhnya.

“Aku tidak pernah sekalipun menyesali apa yang terjadi diantara kita. Aku sangat menyadari...aku yang sekarang tak akan pernah sama dengan aku yang dulu. Aku yang dulu yang belum mengenal kamu adalah aku yang tidak mengenal dicintai...Aku yang dulu belum bersama kamu adalah aku yang tidak pernah begitu mencintai seseorang sampai begitu hebatnya. Begitu mencintai seseorang sampai aku bisa menutup mataku terhadap segala kekurangan orang itu dan membuka mataku untuk menerima dia apa adanya.”

Renee membalikkan tubuhnya dan menatap mataku dalam. Kulihat matanya memandangku penuh cinta dan harapan. “Jo...bersama kamu, aku merasa dicintai secara penuh...bersama kamu, aku merasa hidupku penuh dengan harapan...harapan bahwa kehadiranku selalu dinantikan.”

“Aku tidak pernah peduli bahwa kamu tidak selalu dapat menemaniku...Aku juga tidak pernah peduli bahwa kita jarang bersama karena kesibukan kita masing-masing...Yang aku tahu...aku selalu ada dalam setiap pikiranmu...bahwa aku selalu ada di hati kamu...itu sudah lebih dari cukup bagiku...” Lanjut Renee sambil tersenyum.

“Terima kasih sayang... Terima kasih karena kamu sudah mau menerimaku...Terima kasih karena aku kamu anggap begitu berharga dalam hidupmu...dan Terima kasih karena kamu bersedia untuk aku pikirkan siang dan malam.” Kukecup kening Renee lembut. Kami bangkit dari duduk kami. Berdua melangkah ke kamar kami. Selanjutnya...ahh...kalian pasti tau apa yang akan kami lakukan :)

Read more!