Starting 29 Jan 2008 Jo's blog has moved to http://www.mencintaijo.wordpress.com
Read more!Tuesday, January 29, 2008
Monday, January 28, 2008
Saturday Morning
Hupff…kasur nyamanku segera saja melesak membungkus tubuhku yang jatuh dengan tingkat kepasrahan yang paling tinggi. Kupejamkan mataku sambil berusaha mengosongkan isi kepalaku dan membiarkannya beristirahat setelah seharian ini kupaksa untuk berkerja keras sekeras jaman penjajahan dulu. Hhh...untung besok hari sabtu, pikirku tenang.Lima menit… (aku mulai merasakan darah mengalir pelan di sekujur tubuhku)
Sepuluh menit… (aku mulai merasakan hening, hanya ada suara desau angin mengusik daun di ranting pohon depan kamarku)
Lalu…sekejap saja aku tidak teringat apapun lagi....
Uughh...kubuka mataku...silau...aduuuhhh, siapa sih nih, pagi-pagi udah buka gorden...kurentangkan kedua tanganku jauh ke atas kepala...mmmhh....
“Selamat pagi sayang.” Tiba-tiba suara seseorang yang akrab ditelingaku melangkah masuk menghampiriku sambil membawa nampan berisi setangkup roti dan secangkir kopi kesukaanku.
“Renee!!! Kapan pulang?” Rasa kantuk hilang seketika berganti kegembiraan. Tubuhku otomatis bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Renee.
“Eeh..eh...hati-hati dong Jo, tumpah semua nanti nih.” Renee sibuk mempertahankan keseimbangannya saat tanganku siap memeluknya. “Ditahan dulu ya kangennya....” canda Renee sambil meletakkan nampan itu di atas ranjang sambil tersenyum jahil. Aku hanya tersenyum dan mengambil setangkup roti yang telah disediakan oleh bidadariku.
Renee memperhatikanku mengunyah rotiku dengan nikmat. Kusodorkan kepadanya,” Mau ?“ tawarku. Renee menggeleng ringan. “Ya sudah, kalau tidak mau, aku habiskan sendiri.” Kataku lagi sambil menghabiskannya tanpa memberi kesempatan kepada Renee untuk bicara.
Setelah habis kusantap roti buatan renee, kupeluk tubuh Renee dengan tiba-tiba dan membuat Renee terkejut dan tidak sempat menghindar dari diriku. “Kapan kamu pulang, sayang?” Aku berbisik di telinganya. Hhmm...harum aroma tubuh Renee yang alami langsung saja membuat jiwaku segar. “Kenapa kamu ga ngabarin aku? Aku kangen sekali.” Kataku sambil mempererat pelukanku di tubuhnya.
“Aku mau kasih kejutan buat kamu. Aku pulang semalam. Pas aku hampiri kamu di kamar, aku liat kamu sudah pingsan kaya kalah perang,hehehe...” Sahut Renee sambil membelai kepalaku lembut. Tangan ini...tangan yang selalu menenangkan diriku di saat sesulit apapun keadaanku, hhmm...kupejamkan mataku dan kunikmati setiap belaiannya.
“ Lain kali aku ga mau nemuin kamu tidur dalam keadaan kaya semalam lagi ya!” Katanya sambil melepaskan pelukanku dan menatap wajahku. Kutampilkan tatapan polos berusaha mencoba mencerna kalimat yang baru saja dilontarkannya.
“Keadaan kaya semalam? Pingsan kaya kalah perang?” tanyaku polos dan menyadari pakaian kerjaku sudah berganti dengan piyama kesayanganku.
“Bukan gitu. Kamu semalam tidur ga ganti pakaian dulu. Sepatu masih lengkap. Aku sampai bingung...bisa-bisanya kamu tidur nyenyak padahal kamu masih belum bersihin muka dan badan.” Renee menjelaskan kepadaku sambil mengambil cangkir kopi dan memberikannya padaku.
Kuambil cangkir itu dan menyesapnya sedikit. “ Aku letih banget semalam. Habis disiksa habis-habisan sama Pak Erwin. Presentasi di depan klien yang bawelnya setengah mampus.” Kataku sambil membereskan nampan dari atas ranjangku. Renee membantuku membereskan tempat tidur yang sekarang baru kusadari ternyata bagian di sebelahku terlihat sedikit berantakan, menandakan semalam Renee tidur di sampingku. Sedikit rasa penyesalan timbul di hatiku karena tidak menyambut kepulangannya.
Puas memandangi hasil kerjanya terhadap tempat tidur kami, Renee kemudian berpaling kepadaku.
“ Seletih apapun, kamu kan bisa cuci muka dulu. Mandi dulu pakai air hangat. Sikat gigi dulu...” Kuredam semua kata-katanya dengan bibirku. Kucium lembut bibirnya. Lamat-lamat kata-kata Renee terhenti dan kurasakan bibirnya membuka membalas ciumanku hangat. “ Aku lupa sesuatu, Jo...” Renee tiba-tiba melepaskan bibirnya pelan. Sedetik kucoba meraih kesadaranku yang sempat hilang dan menatapnya bertanya-tanya. “ Kamu kan baru bangun dan belum sikat gigi, Jo. “ Katanya sambil tertawa berlari keluar kamar menghindari diriku yang siap menerkamnya kembali.
Ku ambil handuk dan segera saja menghabiskan waktu selama 15 menit di dalam kamar mandi sambil melatih vokalku yang kalau saja juri Indonesian Idol mendengarnya, aku yakin mereka akan langsung menyembunyikan diri di bawah kolong mejanya. Setelah selesai dengan ritual pagiku, kuhampiri Renee yang sedang duduk di sofa teras depan rumah. Ku ambil posisi di sampingnya. Kukecup pipinya ringan. Renee tersenyum dan menggeser memberikan tempat bagiku.
Berdua, kami menatap halaman rumah yang penuh dengan pohon dan tanaman yang semakin rindang dan beraneka ragam. Kami bersandar santai, berusaha menikmati keheningan pagi yang sejuk. Kurangkul tubuh Renee.
“ Kamu tau apa yang sedang kupikirkan, sayang?” bisikku lembut takut merusak keheningan yang indah ini. Renee menoleh, menatap mataku. “ Setiap malam...saat aku pulang ke rumah ini...saat jiwaku dipenuhi rasa lelah...aku begitu kesepian...dadaku terasa sesak memikirkan dirimu yang berada begitu jauh dariku...membayangkan tanganmu membelai kepalaku sampai aku tertidur dalam pelukmu...hatiku seperti teriris pisau tajam.” Lanjutku sambil memeluknya erat.
Renee masih terdiam memberiku kesempatan untuk melanjutkan kata-kataku. “ Sering aku berpikir...berandai-andai...andai saja dulu aku tidak bertemu kamu...mungkin aku tidak akan merasakan sakit di dada ini. Andai saja kita tidak pernah saling kenal...mungkin aku tidak akan sulit membayangkan dirimu yang berada jauh di sana...” Kugenggam jemarinya. Kubawa dekat ke bibirku. “ Memikirkan aku tidak menyambut kepulanganmu semalam, membuat aku merasa tidak dapat membahagiakanmu dengan waktuku.”
“Sshh...jangan lanjutkan lagi, Jo.” Renee meletakkan jari telunjuknya dibibirku. “Pernahkah kamu melihat dari sudut pandang yang berbeda, Jo?” tanyanya sambil menarik tanganku, menambah erat pelukanku pada tubuhnya.
“Aku tidak pernah sekalipun menyesali apa yang terjadi diantara kita. Aku sangat menyadari...aku yang sekarang tak akan pernah sama dengan aku yang dulu. Aku yang dulu yang belum mengenal kamu adalah aku yang tidak mengenal dicintai...Aku yang dulu belum bersama kamu adalah aku yang tidak pernah begitu mencintai seseorang sampai begitu hebatnya. Begitu mencintai seseorang sampai aku bisa menutup mataku terhadap segala kekurangan orang itu dan membuka mataku untuk menerima dia apa adanya.”
Renee membalikkan tubuhnya dan menatap mataku dalam. Kulihat matanya memandangku penuh cinta dan harapan. “Jo...bersama kamu, aku merasa dicintai secara penuh...bersama kamu, aku merasa hidupku penuh dengan harapan...harapan bahwa kehadiranku selalu dinantikan.”
“Aku tidak pernah peduli bahwa kamu tidak selalu dapat menemaniku...Aku juga tidak pernah peduli bahwa kita jarang bersama karena kesibukan kita masing-masing...Yang aku tahu...aku selalu ada dalam setiap pikiranmu...bahwa aku selalu ada di hati kamu...itu sudah lebih dari cukup bagiku...” Lanjut Renee sambil tersenyum.
“Terima kasih sayang... Terima kasih karena kamu sudah mau menerimaku...Terima kasih karena aku kamu anggap begitu berharga dalam hidupmu...dan Terima kasih karena kamu bersedia untuk aku pikirkan siang dan malam.” Kukecup kening Renee lembut. Kami bangkit dari duduk kami. Berdua melangkah ke kamar kami. Selanjutnya...ahh...kalian pasti tau apa yang akan kami lakukan :)
Posted by Jo at 9:01 AM 0 comments
Labels: Romance
Thursday, January 24, 2008
My Cozy Home
Sahabat, kali ini ijinkan aku untuk menceritakan tentang rumah yang selama ini menjadi tempat persinggahanku...Rumah tempatku tinggal sekarang ini adalah rumah yang penuh kehangatan. Dengan penghuni yang hampir mencapai 40 kepala, tentu kamu bisa membayangkan betapa kehidupan dalam rumah ini sangat bervariasi oleh perbedaan karakter dan budaya.
Mungkin kamu membayangkan rumah ini seperti sebuah panti atau asrama, tapi bukan sahabat...rumahku ini benar-benar rumah.
Rumah yang kadang-kadang ramai saat kebanyakan penghuninya berkumpul, entah ramai karena sekedar mendiskusikan topik penting atau tidak penting, ataupun ramai karena ada seorang penghuni yang bermasalah.
Rumah yang lebih sering sepi saat kebanyakan penghuninya berpergian entah karena pekerjaan, entah karena urusan keluarga (walaupun belum berkeluarga), atau karena malas untuk sekedar mampir menengok penghuni lain dalam rumah ini.
Pemilik rumah ini adalah sepasang sahabat yang kukenal ketika pada suatu hari aku tak sengaja mampir ke suatu kedai kopi milik mereka, dimana baru belakangan aku mengetahui bahwa penghuni lain yang menempati rumah ini juga berawal dari kunjungan mereka ke kedai kopi yang sama denganku.
Semua penghuni yang tinggal di dalam rumah ini saling menghargai satu sama lain. Hanya ada satu peraturan di rumah ini. Bebas bertanggung berjawab. Suatu kebebasan untuk melakukan apapun yang kami inginkan...ngerumpi, nonton, pergi pulang sesuka hati tanpa ada jam malam, curhat, masak, dan hal-hal lain yang tidak pernah bisa kami lakukan bila kami berada di luar rumah ini. Namun kami juga dituntut untuk bertanggung jawab membersihkan dan merawatnya, menyalakan penghangat saat dingin mulai menggigit kulit, dan selalu menjaga privasi penghuni yang lain.
Aku bersahabat dekat dengan beberapa penghuni, bahkan dengan pemilik rumah. Walaupun kami hampir tidak pernah bertemu-muka di rumah ini, namun sesibuk apapun kami selalu berusaha untuk saling memperhatikan melalui akses lain, entah itu hanya sekedar say hello, mengingatkan untuk makan, atau hanya sekedar tau dari sahabat yg lain bahwa mereka baik-baik saja.
Pasti kamu bingung kan kenapa tiba-tiba kali ini aku ingin bercerita tentang rumah kami?
Aku tidak pernah menyadari sebelumnya, bahwa aku begitu mencintai rumah dan penghuninya ini. Aku tidak pernah menyadari bahwa aku memiliki ketergantungan yang tinggi untuk tetap tinggal di dalamnya. Aku bahkan tidak pernah menyadari bahwa aku begitu membutuhkan kehadiran penghuni lain yang bahkan sangat menyebalkan bagi diriku. Hingga suatu malam, ketika aku dan seorang sahabat memiliki kesempatan melewatkan malam kami untuk ngobrol, kami sampai pada obrolan serius tentang masalahnya.
Sahabatku bercerita tentang bagaimana dia sedang berada dalam kebimbangan. Kebimbangan dimana dia harus memutuskan untuk memilih satu diantara dua pilihan, apakah dia harus meninggalkan rumah kami dan meninggalkan kami sahabat-sahabatnya, atau tetap tinggal di dalamnya dengan membawa sekarung rasa bersalah dan penyesalan yang nantinya akan membuat hidupnya tidak lagi nyaman berada dalam rumah kami.
Sahabatku bercerita tentang beratnya perasaan dia ketika dia tau bahwa bila dia memutuskan pergi meninggalkan rumah ini, maka dia akan kehilangan semua sahabat yang selalu mendukungnya, bahkan sebuah dukungan yang dia butuhkan bila dia memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam rumah lain yang akan kembali dia tempati.
Kamu pasti bertanya-tanya dalam hati, kalau rumah yang sekarang sudah nyaman bagi dia, kenapa dia memutuskan untuk pindah ke rumah lain?
Tidak sesederhana itu kawan.
Rumah ini bukan rumah baru bagi sahabatku. Rumah ini adalah rumah yang dia bangun sejak masih berbentuk tanah kosong. Dari membangun pondasi, memilih batu dinding, memilih atap, mendesain interior dan lain-lain. Rumah yang pada awalnya merupakan rumah yang nyaman dan kemudian berubah menjadi rumah yang tidak terawat karena penghuninya sibuk dengan urusannya sendiri yang hanya mampir datang untuk menyiram tanaman di halaman dan sekedar menyalakan atau mematikan lampu halaman.
Sahabatku bercerita tentang kekhawatirannya bila dia tidak mendapatkan kenyamanan yang sama di rumah itu. Kebebasan yang sama. Tanggung jawab yang sama. Dia bercerita tentang bagaimana dia tidak akan pernah bisa mengunjungi kami lagi. Sama sekali memutuskan rantai persahabatan kami.
Aku tidak dapat menjawab. Aku hanya bisa mendengarkan kegelisahannya. Aku hanya bisa menampung rasa bingung yang dia lontarkan. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku sambil memperhatikan jariku yang terlipat. Bahkan sampai kami sama-sama lelah untuk melanjutkan obrolan kami, aku masih belum bisa memberikan solusi untuk membantunya keluar dari kebimbangan ini.
Sahabatku...maafkan aku karena kebisuanku. Aku hanya tidak bisa membayangkan tinggal di rumah ini tanpa dirimu yang biasanya selalu berada di sampingku. Memasak makanan saat aku lapar. Membuat minuman dingin saat aku haus. Mengelus punggungku saat aku gelisah. Menari bersamaku saat aku merayakan kemenanganku. Menangis bersamaku saat aku merasakan sakit di hatiku.
Sahabatku...maafkan aku karena kehampaan mataku. Aku hanya berusaha menyadari...suatu saat nanti, aku pasti menghadapi kebimbangan yang sama. Suatu saat nanti, aku akan dihadapkan pada dua pilihan yang sama yang sedang kamu hadapi saat ini. Aku hanya berusaha menelaah...apa yang harus aku lakukan bila saat itu tiba...Apakah aku akan sekuat kamu? Apakah aku akan tetap dapat menjadi diriku seperti sekarang ini? Ataukah aku akan membenci keadaan yang sama yang saat ini berhasil membuat dirimu gelisah dan berandai-andai jika saja kamu tidak pernah terlahir ke dunia ini?
Sahabatku...yang aku tau...kita berdua saat ini memiliki tali persahabatan yang bukan hanya kita miliki saat kita berada dalam rumah ini. Tali persahabatan yang akan tetap ada walaupun masing-masing dari kita telah memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah ini dan melangkah pulang kembali ke rumah lama kita untuk merawatnya.
Agar rumah lama kita tetap berwarna ceria dengan cat barunya. Agar saat kita pulang dan menginjakkan kaki kita di depan rumah, kita dapat mendengarkan suara acara dari televisi yang sedang ditonton oleh penghuni lain. Sampai saatnya tiba nanti, kita akan bertemu kembali di rumah yang telah kita tinggalkan, sekedar mampir untuk menyesap secangkir kopi bersama sahabat-sahabat yang pernah kita tinggalkan dengan tangis, melepas rasa kangen, dan akhirnya pamit untuk datang kembali di lain kesempatan.
Saat ini sahabatku...nikmati saja waktu yang tersisa bersamaku dalam rumah ini sampai tiba saatnya kamu atau aku harus pergi meninggalkan rumah ini dan sahabat-sahabat kita....
Posted by Jo at 10:20 PM 1 comments
Labels: Friendship
Tuesday, January 22, 2008
Momentary Twilight
Pernahkah kamu terperangkap dalam senja saat kamu tengah bermain dengan indahnya warna oranye yang mengelilingimu menari berputar dan akhirnya kamu menyadari bahwa kamu tidak dapat keluar dari tempatmu berada untuk menghadapi gelapnya malam dan membiarkan dirimu alpa untuk menikmati kerlap kerlip bintang yang menunggumu?Aku pernah hampir terperangkap di dalamnya.
Sekali saja dalam hidupku, aku mengalaminya.
Masih lekat dalam ingatanku saat aku bertemu dengannya dalam suatu pesta. Pertemuan itu sebenarnya merupakan pertemuan kedua kami. Dia tampak begitu indah. Sinar matanya begitu cemerlang. Aku bahkan bertanya-tanya, mengapa sinar mata yang secemerlang itu tak kutemukan ketika kami bertemu pertama kali. Ada sesuatu di dirinya yang membuatku ingin mendekatinya. Bukan, aku yakin ini bukan magnet, karena aku tidak lantas tertarik untuk menempel padanya. Kuolah otakku, berusaha menemukan apa yang membuat dirinya begitu kuat menarik diriku untuk mendekatinya.
Kami berbicara ringan sambil memberikan kesempatan pada diriku untuk menemukan apa yang membuat dirinya menjadi begitu indah. Senyum dan tawanya yang alami dan tidak dibuat-buat? Hmm...aku rasa bukan itu. Hampir semua wanita yang berbicara denganku melemparkan senyum yang sama. Suaranya yang renyah? Tidak juga. Tubuhnya yang seksi? Perempuanku jauh lebih seksi. Gaya bicaranya? Hmm...lumayan asyik, tapi bukan...bukan itu.
Hampir 30 menit aku bercakap-cakap dengannya, namun masih saja aku tidak bisa menemukan apa yang kucari, sampai pada suatu detik ketika aku memusatkan perhatianku pada matanya. Gotcha teriakku dalam hati. Mata itu...mata seorang bidadari yang tulus...menatap langsung ke dasar hatiku. Mata yang dapat membuat diriku sejenak melupakan semua hal nyata yang ada dalam hidupku. Mata yang dapat menarik diriku ke dalam pusaran kegembiraan tiada tara.
Kutatap mata itu lebih dalam. Semakin dalam kugali keindahan mata itu, semakin aku terperosok lebih jauh. Dia tersenyum manis. “Maaf, apa ada yang salah dalam perkataanku?” Diriku tersentak terlontar keluar, jauh dari lubang kebahagiaan yang hanya beberapa detik kujelajahi. Kugelengkan kepala sambil tersenyum. Kami melanjutkan percakapan kami...tanpa beban...karena aku sudah menemukan apa yang kucari.
Malam itu kami semakin dekat.
Kurasakan atmosfir di sekitar kami menjadi hening... jarak antara kami menjadi hanya sekejap mata...kepalanya bersandar didadaku...tanganku, mendekapnya erat...bibirku, mengecup keningnya lembut. Kurasakan desahan lembut nafasnya dileherku. Saat itu kata-kata menjadi tidak penting untuk diucapkan...Saat itu hati nurani tertutup...Saat itu cinta hanya perlu untuk diungkapkan...Saat itu aku merasakan nikmatnya sentuhan lidahnya...Saat itu kurasakan halus lembut kulit tubuhnya...Saat itu...kami bercinta...saling menelusuri lekuk tubuh kami berdua...mengenali...merasakan...saling memberi kenikmatan...sampai kegelapan lenyap dari pandanganku.
Ah...dia memang indah. Aku jatuh cinta padanya tanpa pernah diberi kesempatan untuk memilih. Aku jatuh cinta padanya seperti seorang Jaka Tarub yang rela menyembunyikan selendang sang bidadari agar kami tetap bisa bersama selamanya. Aku jatuh cinta padanya tanpa pernah bisa mengingat bahwa aku masih harus pulang ke rumah.
Tidak. Aku tidak bisa pergi. Bidadari ini begitu memikatku, membuat diriku terbuai dimabuk asmara. Aku tidak bisa meninggalkannya. Aku kecanduan bercinta dengannya. Aku kecanduan berciuman dengan perempuan yang meninggalkan rasa di bibirku, bahkan lama setelah ciuman kami berakhir. Lama setelah persetubuhan usai. Mati-matian kubunuh rasa itu, kugigit lidahku hingga mati rasa. Tapi rasa itu tetap ada, bahkan ketika aku mencicipi asin darah di mulutku.
Saat aku tersadar, aku telah hanyut dalam lingkaran oranye yang membelit hidupku. Susah payah kulepaskan diri dari belitan kebahagiaan semu ini. Aku ingin teriak minta tolong. Bahkan aku rela berlutut memohon kepada bidadariku agar dia jangan menahanku. Agar dia rela melepasku dari perangkapnya. Agar aku bisa pulang menemui malamku.
Malamku datang menjemputku pulang. Malamku menarikku keluar dari indahnya senja yang semakin redup. Malamku menggendongku kala senjaku pergi. Malamku menemaniku, mendekap erat tubuhku yang gemetar.
Maafkan aku malamku. Dekaplah aku erat dalam pelukmu. Agar aku tidak lagi lalai menanti hadirmu. Agar senja tidak lagi dapat menarikku. Agar senja tidak lagi dapat menawanku. Agar senja hanya mampu memancarkan indah oranyenya untuk kupandangi.
Read more!
Posted by Jo at 8:41 AM 0 comments
Labels: Romance
Monday, January 21, 2008
Dear God

I want to thank You for what you have already done.
I am not going to wait until I see results or receive rewards;
I am thanking you right now.
I am thanking you right now.
I am not going to wait until I feel better or things look better;
until people say they are sorry or until they stop talking about me;
until people say they are sorry or until they stop talking about me;
until the pain in my body disappears;
until my financial situation improves;
until the children are asleep and the house is quiet;
until I get promoted at work or until I get the job;
I am going to thank you right now.
until my financial situation improves;
until the children are asleep and the house is quiet;
until I get promoted at work or until I get the job;
I am going to thank you right now.
I am not going to wait until I understand every experience in my life that has caused me pain or grief;
I am not going to wait until the journey gets easier or the challenges are removed;
I am thanking you right now.
I am thanking you right now.
I am thanking you because I am alive.
I am thanking you because I made it through the day's difficulties.
I am thanking you because I made it through the day's difficulties.
I am thanking you because I have walked around the obstacles.
I am thanking you because I have the ability and the opportunity to do more and do better.
I'm thanking You because GOD, YOU haven't given up on me.
Posted by Jo at 2:29 PM 0 comments
Labels: Faith
Sunday, January 20, 2008
A Shelter to Cry On
Aku bukanlah orang yang romantis. Sejak dulu aku tidak pernah peduli dengan hal-hal seperti ini, sampai suatu hari seseorang dari masa lalu mengajakku untuk bertemu dalam suatu makan malam di restoran Jepang di daerah Sudirman. Kami berbasa-basi dalam percakapan tidak penting sambil menikmati makanan yang sebenarnya tidak tega untuk kutelan melihat harganya yang hampir sama dengan harga sebuah televisi 14 inch. Setelah makanan penutup disajikan, Jane, temanku itu, tiba-tiba mengeluarkan sebuah kalimat tanya yang jika diungkapkannya saat ia dekat denganku, aku akan menjawab dengan segala jawaban diplomatis.“Gue mau tanya sesuatu nih Jo,” katanya tegas. “Gue minta lo jawab sejujur-jujurnya, ga pake acara lo ga enak ama gue segala. Kita kan dah tau sama tau ini,” lanjut Jane lagi sebelum aku sempat menjawab.
Sambil mengambil buah strawberry yang menarik hatiku dengan kesegaran merahnya, aku berkata, “Mau tanya apa? Kalau gue bisa jawab, pasti akan gue jawab.”
“Menurut lo, Jo... Dulu itu, hubungan kita seperti apa sih?” tanyanya serius.
“Uhuk..uhuk...” Kumuntahkan strawberry ke serbet. “Heh? Kok masih nanya? Sudah jelas kan kalau hubungan kita itu dekat sebagai sahabat. “
Jane yang masih belum puas dengan jawabanku memperlihatkannya dengan mimik wajah yang masih penuh dengan kebingungan.
“Maksud lo, kita ga pernah pacaran?” tanya Jane mengejutkanku.
“Uhuk...uhuk...” Aku kembali langsung batuk-batuk tersedak karena pertanyaan Jane.
Dengan sigap Jane membantuku membersihkan remah-remah strawberry yang sempat muncrat keluar dari mulutku. “Aduuhh...makannya pelan-pelan dong, Jo. Lo tuh kalau liat strawberry kaya orang kelaperan tiga hari tiga malam deh.” Entah Jane sadar atau tidak, tapi pertanyaannya-lah yang membuatku tersedak. Setelah berhasil menenangkan diri, kupandangi mata Jane yang masih menunggu jawabanku.
“Kenapa tiba-tiba lo nanya kaya gini?” tanyaku.
“Gue pengen tau aja. Soalnya kemaren secara kebetulan gue ketemu Deniar di Kemang. Lo masih inget ga sama Deniar?” sahutnya sambil kembali memesan minuman untukku dan dirinya.
“Deniar? Temen lo yang dulu ngenalin lo sama gue? Inget banget. Emang kalian ngomongin apa?” tanyaku lagi.
“Deniar bilang sama gue... dia sebenarnya ga rela ngelepasin pacar kaya lo kalau bukan demi gue. Padahal dulu seinget gue, lo pernah bilang Deniar tuh cuma teman dekat lo. Kalian ga pernah pacaran. Deniar ngira kalau lo ninggalin dia karena lo pacaran ama gue. Makanya gue tadi nanya lo, dulu lo menganggap hubungan kita tuh seperti apa... eh, ternyata jawaban yang gue dapat sama dengan jawaban yang pernah gue tanya ke lo tentang Deniar, Lia, dan yang lain-lain deh.” Jelas Jane panjang lebar membuatku agak mengerti ke mana sebenarnya arah pembicaraan ini.
“Memangnya menurut lo, hubungan kita dulu seperti apa?” aku balik bertanya.
“Nngg...gue pikir dulu kita pacaran,” jawabnya pelan tapi sempat membuatku merasa tidak enak.
“Ehmm...” aku mulai mencoba merangkai kalimat di kepalaku. “Begini Jane... lo inget ga bagaimana dulu kita bisa ketemu, kenalan, dan akhirnya jadi dekat?” tanyaku memulai penjelasan.
“Inget. Dulu kita ketemu pas gue lagi ada masalah sama mantan pacar gue, trus Deniar ngenalin gue sama lo, karena menurut Deniar, lo bisa dimintai pendapat tentang hal-hal seperti itu. Setelah itu kita jadi sering ketemu untuk sesi curhat dan akhirnya sering hang out berdua,” jawabnya lancar seperti orang menghafal.
“Hmm...menurut lo kalo dua orang sering curhat bareng, trus hang out bareng, apakah dua orang itu bisa langsung dikatakan berpacaran?” lanjutku sambil mulai menyalakan rokok melengkapi makanan penutup yang baru saja kuhabiskan.
Jane menggelengkan kepala lalu melanjutkan pertanyaannya. “Tapi saat kita dekat dulu, gue ngerasa kalo gue punya perasaan lebih ke lo, begitu juga lo. Saat gue sedih dan mau nangis, gue telepon lo, lo pasti langsung datang ke tempat gue. Lo juga sering meluk gue saat gue butuh rasa nyaman dari pelukan lo. Lo hampir selalu bisa menghibur gue dan selalu ada disamping gue saat gue membutuhkan lo. Kalo bukan pacaran, mana mungkin lo rela melakukan itu semua?” Jane mengatakan alasannya dengan panjang lebar. Aku hanya mengangguk-ngangguk menunggu dia menyelesaikan kalimatnya.
Jane mengikutiku menyalakan batang rokok yang kedua, lalu melanjutkan omongannya. “Apakah saat lo dengan Deniar atau Lia atau dengan yang lainnya, lo juga melakukan hal-hal seperti itu dan menganggapnya hanya sebagai bentuk perhatian seorang sahabat? Sementara dari yang gue tau, kami semua menganggap kalo kami pernah menjadi seseorang yang menempati ruang khusus di hati lo? Mungkin sampai sekarang kami masih memegang kebanggaan sebagai mantan pacar seorang Jo. Dan ternyata lo ga mempunyai anggapan yang sama. Sumpeh, gue jadi bingung... Jangan-jangan memang benar anggapan orang selama ini kalo Jo itu buaya.”
Jane terdiam mengambil napas, dan kugunakan kesempatan itu untuk menjawabnya. “Oke, sekarang giliran gue ngomong ya... Gue ga akan defense, gue cuma berusaha memberikan pandangan gue terhadap pertanyaan lo dari sisi seorang Jo,” sahutku tegas menunggu sampai Jane mengangguk setuju. “Sejak pertama gue dekat dengan seseorang, gue selalu menegaskan kalo gue ga berminat sama sekali sama yang namanya hubungan dengan ikatan. Itu berarti gue memang tidak berminat sama yang namanya pacaran. Semua orang yang kenal gue, tau banget kalo cuma ada satu orang yang pernah jadi pacar gue dan satu orang yang sekarang jadi pacar gue. Gue ga tau ini emang kebetulan atau apa, kalau semua nama yang tadi lo sebut dari Deniar, Lia, dan lain-lain dekat dengan gue karena dimulai dari sesuatu yang dinamakan kesedihan. Mungkin kalian menganggap segala bentuk perhatian gue yang berlebih merupakan perhatian dari gue untuk seseorang yang bisa gue anggap sebagai pacar. Tapi, menurut lo, dengan gue memberikan perhatian pada saat kalian sedang sedih, apakah gue salah? Apakah gue harus diem aja, pura-pura simpati tanpa melakukan apa-apa? Kalian maunya gue bersikap seperti itu?”
Jane menggeleng pelan. “Ya ga gitu, Jo. Cuma gue bingung aja dengan sikap lo yang extra nice ke semua perempuan.”
“Yah, dalam kesempatan ini gue minta maaf deh, kalo kalian salah mengartikan sikap gue.” Kugenggam tangan Jane pasti. “ Jane, gue ga bisa membuat orang lain berpikir bahwa Jo itu baik dan tidak buaya, tapi paling enggak, gue yakin kalo lo ga pernah menganggap gue buaya, karena kalo demikian adanya, lo ga mungkin ada di sini di hadapan gue, makan dan ngobrol selayaknya sepasang sahabat. Ngerti maksud gue?” tanyaku menatapnya penuh harap bahwa dia akan mengerti perkataanku.
Jane mengangguk pasti dan tersenyum “Gue ngerti banget, Jo.” Mata Jane menatapku hangat. “Thanks ya, Jo, karena lo dah mengisi hidup gue dan membuatnya jadi lebih berwarna. Lo emang ga pernah jadi pacar gue, tapi gue yakin, lo akan selalu ada saat gue butuh tempat untuk bersandar. Saat gue butuh sahabat untuk melindungi gue. You’re really my shelter to cry on, Jo. Thanks for being so extra nice to me. Perlahan air mata turun mengalir di pipinya.
Kuambil tisu dan kuhapus air mata itu “Aduh, udah deh, lo ga pantes banget cengeng kaya gini. Ga usah pake nangis deh, ntar gue bener-bener dicap buaya yang bikin cewe patah hati nih.” Kulihat sinar di matanya. Saat itu kami sadar, bahwa hubungan kami memang lebih indah seperti ini. Jane menimpukku dengan tisu bekasnya dan kami kembali bersenda gurau tanpa ada beban yang menggelayuti kami. Kulihat di jendela, senja mengintip seolah melengkapi kegembiraan kami....
Yeah, aku memang bukan orang yang romantis, namun aku berani berjanji...aku akan menjadi a shelter to cry on bagi sahabat yang membutuhkanku....
Posted by Jo at 6:55 PM 0 comments
Labels: Easy Reading
Friday, January 11, 2008
To Love is To Be Loved
Dulu, aku tidak pernah suka untuk menulis buku harian. Sejak kecil aku selalu meledek teman-temanku yang rajin mengisi diary-nya. Tentang cinta monyet mereka. Tentang omelan orangtua dan para guru. Tentang pertengkaran dengan sahabat. Tidak, aku bukan seperti mereka. Aku bukan orang yang bisa menuangkan perasaanku di atas kertas. Namun, saat usia ini sudah bisa mengerti apa artinya sebuah cinta, saat tahu bagaimana rasanya dicintai, dan terutama saat tahu bagaimana rasanya mencintai, aku mulai menyadari betapa besar arti sebuah media untuk mengungkapkan apa yang kurasakan namun tidak dapat kubagi dengan orang lain.
Aku senang mencintai. Senang menjalani proses bagaimana aku mengenal seorang wanita, kemudian berusaha ingin tahu lebih banyak tentang dia, setelah tahu lebih banyak dan ternyata aku menyukainya, aku akan berjuang untuk mendapatkan perhatiannya, dan setelah aku berhasil mendapatkan perhatiannya, aku tahu bahwa aku juga dicintai.
Nah, bisakah kamu bayangkan jika semua wanita hanya menunggu untuk dicintai, sedangkan hanya aku seorang diri yang berusaha mencintai mereka? Hhmm...pastilah sangat butuh perjuangan yang sangat keras... Ups, tunggu dulu, bagaimana dengan hasil perjuangan itu sendiri? Aku akan menjadi satu-satunya orang yang dicintai banyak wanita karena aku satu-satunya yang berjuang untuk mencintai :)
Bergabunglah bersamaku teman.... Rasakan sulitnya mengenal seorang wanita... Rasakan sulitnya mencari tahu lebih banyak tentang wanita... Rasakan sulitnya berjuang untuk mendapatkan perhatian seorang wanita... Rasakan bagaimana bahagianya saat wanita itu berbalik memerhatikan kamu... Rasakan ketika mencintai menjadi begitu sempurna saat kita dicintai.
Terima kasih karena menjadikan aku seorang pencinta. Terima kasih karena aku diijinkan untuk mencintai wanita. Terima kasih karena aku dicintai. Selamat mencintai untuk dicintai :)
Posted by Jo at 11:49 AM 10 comments
