Tuesday, January 22, 2008

Momentary Twilight

Pernahkah kamu terperangkap dalam senja saat kamu tengah bermain dengan indahnya warna oranye yang mengelilingimu menari berputar dan akhirnya kamu menyadari bahwa kamu tidak dapat keluar dari tempatmu berada untuk menghadapi gelapnya malam dan membiarkan dirimu alpa untuk menikmati kerlap kerlip bintang yang menunggumu?

Aku pernah hampir terperangkap di dalamnya.

Sekali saja dalam hidupku, aku mengalaminya.

Masih lekat dalam ingatanku saat aku bertemu dengannya dalam suatu pesta. Pertemuan itu sebenarnya merupakan pertemuan kedua kami. Dia tampak begitu indah. Sinar matanya begitu cemerlang. Aku bahkan bertanya-tanya, mengapa sinar mata yang secemerlang itu tak kutemukan ketika kami bertemu pertama kali. Ada sesuatu di dirinya yang membuatku ingin mendekatinya. Bukan, aku yakin ini bukan magnet, karena aku tidak lantas tertarik untuk menempel padanya. Kuolah otakku, berusaha menemukan apa yang membuat dirinya begitu kuat menarik diriku untuk mendekatinya.

Kami berbicara ringan sambil memberikan kesempatan pada diriku untuk menemukan apa yang membuat dirinya menjadi begitu indah. Senyum dan tawanya yang alami dan tidak dibuat-buat? Hmm...aku rasa bukan itu. Hampir semua wanita yang berbicara denganku melemparkan senyum yang sama. Suaranya yang renyah? Tidak juga. Tubuhnya yang seksi? Perempuanku jauh lebih seksi. Gaya bicaranya? Hmm...lumayan asyik, tapi bukan...bukan itu.

Hampir 30 menit aku bercakap-cakap dengannya, namun masih saja aku tidak bisa menemukan apa yang kucari, sampai pada suatu detik ketika aku memusatkan perhatianku pada matanya. Gotcha teriakku dalam hati. Mata itu...mata seorang bidadari yang tulus...menatap langsung ke dasar hatiku. Mata yang dapat membuat diriku sejenak melupakan semua hal nyata yang ada dalam hidupku. Mata yang dapat menarik diriku ke dalam pusaran kegembiraan tiada tara.

Kutatap mata itu lebih dalam. Semakin dalam kugali keindahan mata itu, semakin aku terperosok lebih jauh. Dia tersenyum manis. “Maaf, apa ada yang salah dalam perkataanku?” Diriku tersentak terlontar keluar, jauh dari lubang kebahagiaan yang hanya beberapa detik kujelajahi. Kugelengkan kepala sambil tersenyum. Kami melanjutkan percakapan kami...tanpa beban...karena aku sudah menemukan apa yang kucari.

Malam itu kami semakin dekat.

Kurasakan atmosfir di sekitar kami menjadi hening... jarak antara kami menjadi hanya sekejap mata...kepalanya bersandar didadaku...tanganku, mendekapnya erat...bibirku, mengecup keningnya lembut. Kurasakan desahan lembut nafasnya dileherku. Saat itu kata-kata menjadi tidak penting untuk diucapkan...Saat itu hati nurani tertutup...Saat itu cinta hanya perlu untuk diungkapkan...Saat itu aku merasakan nikmatnya sentuhan lidahnya...Saat itu kurasakan halus lembut kulit tubuhnya...Saat itu...kami bercinta...saling menelusuri lekuk tubuh kami berdua...mengenali...merasakan...saling memberi kenikmatan...sampai kegelapan lenyap dari pandanganku.

Ah...dia memang indah. Aku jatuh cinta padanya tanpa pernah diberi kesempatan untuk memilih. Aku jatuh cinta padanya seperti seorang Jaka Tarub yang rela menyembunyikan selendang sang bidadari agar kami tetap bisa bersama selamanya. Aku jatuh cinta padanya tanpa pernah bisa mengingat bahwa aku masih harus pulang ke rumah.

Tidak. Aku tidak bisa pergi. Bidadari ini begitu memikatku, membuat diriku terbuai dimabuk asmara. Aku tidak bisa meninggalkannya. Aku kecanduan bercinta dengannya. Aku kecanduan berciuman dengan perempuan yang meninggalkan rasa di bibirku, bahkan lama setelah ciuman kami berakhir. Lama setelah persetubuhan usai. Mati-matian kubunuh rasa itu, kugigit lidahku hingga mati rasa. Tapi rasa itu tetap ada, bahkan ketika aku mencicipi asin darah di mulutku.

Saat aku tersadar, aku telah hanyut dalam lingkaran oranye yang membelit hidupku. Susah payah kulepaskan diri dari belitan kebahagiaan semu ini. Aku ingin teriak minta tolong. Bahkan aku rela berlutut memohon kepada bidadariku agar dia jangan menahanku. Agar dia rela melepasku dari perangkapnya. Agar aku bisa pulang menemui malamku.

Malamku datang menjemputku pulang. Malamku menarikku keluar dari indahnya senja yang semakin redup. Malamku menggendongku kala senjaku pergi. Malamku menemaniku, mendekap erat tubuhku yang gemetar.

Maafkan aku malamku. Dekaplah aku erat dalam pelukmu. Agar aku tidak lagi lalai menanti hadirmu. Agar senja tidak lagi dapat menarikku. Agar senja tidak lagi dapat menawanku. Agar senja hanya mampu memancarkan indah oranyenya untuk kupandangi.



No comments: