Thursday, January 24, 2008

My Cozy Home

Sahabat, kali ini ijinkan aku untuk menceritakan tentang rumah yang selama ini menjadi tempat persinggahanku...

Rumah tempatku tinggal sekarang ini adalah rumah yang penuh kehangatan. Dengan penghuni yang hampir mencapai 40 kepala, tentu kamu bisa membayangkan betapa kehidupan dalam rumah ini sangat bervariasi oleh perbedaan karakter dan budaya.

Mungkin kamu membayangkan rumah ini seperti sebuah panti atau asrama, tapi bukan sahabat...rumahku ini benar-benar rumah.

Rumah yang kadang-kadang ramai saat kebanyakan penghuninya berkumpul, entah ramai karena sekedar mendiskusikan topik penting atau tidak penting, ataupun ramai karena ada seorang penghuni yang bermasalah.
Rumah yang lebih sering sepi saat kebanyakan penghuninya berpergian entah karena pekerjaan, entah karena urusan keluarga (walaupun belum berkeluarga), atau karena malas untuk sekedar mampir menengok penghuni lain dalam rumah ini.

Pemilik rumah ini adalah sepasang sahabat yang kukenal ketika pada suatu hari aku tak sengaja mampir ke suatu kedai kopi milik mereka, dimana baru belakangan aku mengetahui bahwa penghuni lain yang menempati rumah ini juga berawal dari kunjungan mereka ke kedai kopi yang sama denganku.

Semua penghuni yang tinggal di dalam rumah ini saling menghargai satu sama lain. Hanya ada satu peraturan di rumah ini. Bebas bertanggung berjawab. Suatu kebebasan untuk melakukan apapun yang kami inginkan...ngerumpi, nonton, pergi pulang sesuka hati tanpa ada jam malam, curhat, masak, dan hal-hal lain yang tidak pernah bisa kami lakukan bila kami berada di luar rumah ini. Namun kami juga dituntut untuk bertanggung jawab membersihkan dan merawatnya, menyalakan penghangat saat dingin mulai menggigit kulit, dan selalu menjaga privasi penghuni yang lain.

Aku bersahabat dekat dengan beberapa penghuni, bahkan dengan pemilik rumah. Walaupun kami hampir tidak pernah bertemu-muka di rumah ini, namun sesibuk apapun kami selalu berusaha untuk saling memperhatikan melalui akses lain, entah itu hanya sekedar say hello, mengingatkan untuk makan, atau hanya sekedar tau dari sahabat yg lain bahwa mereka baik-baik saja.

Pasti kamu bingung kan kenapa tiba-tiba kali ini aku ingin bercerita tentang rumah kami?

Aku tidak pernah menyadari sebelumnya, bahwa aku begitu mencintai rumah dan penghuninya ini. Aku tidak pernah menyadari bahwa aku memiliki ketergantungan yang tinggi untuk tetap tinggal di dalamnya. Aku bahkan tidak pernah menyadari bahwa aku begitu membutuhkan kehadiran penghuni lain yang bahkan sangat menyebalkan bagi diriku. Hingga suatu malam, ketika aku dan seorang sahabat memiliki kesempatan melewatkan malam kami untuk ngobrol, kami sampai pada obrolan serius tentang masalahnya.

Sahabatku bercerita tentang bagaimana dia sedang berada dalam kebimbangan. Kebimbangan dimana dia harus memutuskan untuk memilih satu diantara dua pilihan, apakah dia harus meninggalkan rumah kami dan meninggalkan kami sahabat-sahabatnya, atau tetap tinggal di dalamnya dengan membawa sekarung rasa bersalah dan penyesalan yang nantinya akan membuat hidupnya tidak lagi nyaman berada dalam rumah kami.

Sahabatku bercerita tentang beratnya perasaan dia ketika dia tau bahwa bila dia memutuskan pergi meninggalkan rumah ini, maka dia akan kehilangan semua sahabat yang selalu mendukungnya, bahkan sebuah dukungan yang dia butuhkan bila dia memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam rumah lain yang akan kembali dia tempati.

Kamu pasti bertanya-tanya dalam hati, kalau rumah yang sekarang sudah nyaman bagi dia, kenapa dia memutuskan untuk pindah ke rumah lain?

Tidak sesederhana itu kawan.

Rumah ini bukan rumah baru bagi sahabatku. Rumah ini adalah rumah yang dia bangun sejak masih berbentuk tanah kosong. Dari membangun pondasi, memilih batu dinding, memilih atap, mendesain interior dan lain-lain. Rumah yang pada awalnya merupakan rumah yang nyaman dan kemudian berubah menjadi rumah yang tidak terawat karena penghuninya sibuk dengan urusannya sendiri yang hanya mampir datang untuk menyiram tanaman di halaman dan sekedar menyalakan atau mematikan lampu halaman.

Sahabatku bercerita tentang kekhawatirannya bila dia tidak mendapatkan kenyamanan yang sama di rumah itu. Kebebasan yang sama. Tanggung jawab yang sama. Dia bercerita tentang bagaimana dia tidak akan pernah bisa mengunjungi kami lagi. Sama sekali memutuskan rantai persahabatan kami.

Aku tidak dapat menjawab. Aku hanya bisa mendengarkan kegelisahannya. Aku hanya bisa menampung rasa bingung yang dia lontarkan. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku sambil memperhatikan jariku yang terlipat. Bahkan sampai kami sama-sama lelah untuk melanjutkan obrolan kami, aku masih belum bisa memberikan solusi untuk membantunya keluar dari kebimbangan ini.

Sahabatku...maafkan aku karena kebisuanku. Aku hanya tidak bisa membayangkan tinggal di rumah ini tanpa dirimu yang biasanya selalu berada di sampingku. Memasak makanan saat aku lapar. Membuat minuman dingin saat aku haus. Mengelus punggungku saat aku gelisah. Menari bersamaku saat aku merayakan kemenanganku. Menangis bersamaku saat aku merasakan sakit di hatiku.

Sahabatku...maafkan aku karena kehampaan mataku. Aku hanya berusaha menyadari...suatu saat nanti, aku pasti menghadapi kebimbangan yang sama. Suatu saat nanti, aku akan dihadapkan pada dua pilihan yang sama yang sedang kamu hadapi saat ini. Aku hanya berusaha menelaah...apa yang harus aku lakukan bila saat itu tiba...Apakah aku akan sekuat kamu? Apakah aku akan tetap dapat menjadi diriku seperti sekarang ini? Ataukah aku akan membenci keadaan yang sama yang saat ini berhasil membuat dirimu gelisah dan berandai-andai jika saja kamu tidak pernah terlahir ke dunia ini?

Sahabatku...yang aku tau...kita berdua saat ini memiliki tali persahabatan yang bukan hanya kita miliki saat kita berada dalam rumah ini. Tali persahabatan yang akan tetap ada walaupun masing-masing dari kita telah memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah ini dan melangkah pulang kembali ke rumah lama kita untuk merawatnya.

Agar rumah lama kita tetap berwarna ceria dengan cat barunya. Agar saat kita pulang dan menginjakkan kaki kita di depan rumah, kita dapat mendengarkan suara acara dari televisi yang sedang ditonton oleh penghuni lain. Sampai saatnya tiba nanti, kita akan bertemu kembali di rumah yang telah kita tinggalkan, sekedar mampir untuk menyesap secangkir kopi bersama sahabat-sahabat yang pernah kita tinggalkan dengan tangis, melepas rasa kangen, dan akhirnya pamit untuk datang kembali di lain kesempatan.

Saat ini sahabatku...nikmati saja waktu yang tersisa bersamaku dalam rumah ini sampai tiba saatnya kamu atau aku harus pergi meninggalkan rumah ini dan sahabat-sahabat kita....

1 comment:

Anonymous said...

dear Jo,
meskipun saatnya akan tiba, dimana Sahabat-mu tidak lagi berada di rumah yang sama dan tidak lagi dapat mendampingi-mu secara fisik...Percayalah, dirimu sebenernya sudah ada di dalam rumah hati sahabatmu, yang akan selalu dibawa kemanapun ia pergi. Jalan panjang yang sudah dilewati bersama dan saat2 menunggu, telah begitu mengikat. Kesediaanmu utk bersama menemani sahabatmu saat menunggu hujan, begitu berharga....sungguh.