Aku bukanlah orang yang romantis. Sejak dulu aku tidak pernah peduli dengan hal-hal seperti ini, sampai suatu hari seseorang dari masa lalu mengajakku untuk bertemu dalam suatu makan malam di restoran Jepang di daerah Sudirman. Kami berbasa-basi dalam percakapan tidak penting sambil menikmati makanan yang sebenarnya tidak tega untuk kutelan melihat harganya yang hampir sama dengan harga sebuah televisi 14 inch. Setelah makanan penutup disajikan, Jane, temanku itu, tiba-tiba mengeluarkan sebuah kalimat tanya yang jika diungkapkannya saat ia dekat denganku, aku akan menjawab dengan segala jawaban diplomatis.“Gue mau tanya sesuatu nih Jo,” katanya tegas. “Gue minta lo jawab sejujur-jujurnya, ga pake acara lo ga enak ama gue segala. Kita kan dah tau sama tau ini,” lanjut Jane lagi sebelum aku sempat menjawab.
Sambil mengambil buah strawberry yang menarik hatiku dengan kesegaran merahnya, aku berkata, “Mau tanya apa? Kalau gue bisa jawab, pasti akan gue jawab.”
“Menurut lo, Jo... Dulu itu, hubungan kita seperti apa sih?” tanyanya serius.
“Uhuk..uhuk...” Kumuntahkan strawberry ke serbet. “Heh? Kok masih nanya? Sudah jelas kan kalau hubungan kita itu dekat sebagai sahabat. “
Jane yang masih belum puas dengan jawabanku memperlihatkannya dengan mimik wajah yang masih penuh dengan kebingungan.
“Maksud lo, kita ga pernah pacaran?” tanya Jane mengejutkanku.
“Uhuk...uhuk...” Aku kembali langsung batuk-batuk tersedak karena pertanyaan Jane.
Dengan sigap Jane membantuku membersihkan remah-remah strawberry yang sempat muncrat keluar dari mulutku. “Aduuhh...makannya pelan-pelan dong, Jo. Lo tuh kalau liat strawberry kaya orang kelaperan tiga hari tiga malam deh.” Entah Jane sadar atau tidak, tapi pertanyaannya-lah yang membuatku tersedak. Setelah berhasil menenangkan diri, kupandangi mata Jane yang masih menunggu jawabanku.
“Kenapa tiba-tiba lo nanya kaya gini?” tanyaku.
“Gue pengen tau aja. Soalnya kemaren secara kebetulan gue ketemu Deniar di Kemang. Lo masih inget ga sama Deniar?” sahutnya sambil kembali memesan minuman untukku dan dirinya.
“Deniar? Temen lo yang dulu ngenalin lo sama gue? Inget banget. Emang kalian ngomongin apa?” tanyaku lagi.
“Deniar bilang sama gue... dia sebenarnya ga rela ngelepasin pacar kaya lo kalau bukan demi gue. Padahal dulu seinget gue, lo pernah bilang Deniar tuh cuma teman dekat lo. Kalian ga pernah pacaran. Deniar ngira kalau lo ninggalin dia karena lo pacaran ama gue. Makanya gue tadi nanya lo, dulu lo menganggap hubungan kita tuh seperti apa... eh, ternyata jawaban yang gue dapat sama dengan jawaban yang pernah gue tanya ke lo tentang Deniar, Lia, dan yang lain-lain deh.” Jelas Jane panjang lebar membuatku agak mengerti ke mana sebenarnya arah pembicaraan ini.
“Memangnya menurut lo, hubungan kita dulu seperti apa?” aku balik bertanya.
“Nngg...gue pikir dulu kita pacaran,” jawabnya pelan tapi sempat membuatku merasa tidak enak.
“Ehmm...” aku mulai mencoba merangkai kalimat di kepalaku. “Begini Jane... lo inget ga bagaimana dulu kita bisa ketemu, kenalan, dan akhirnya jadi dekat?” tanyaku memulai penjelasan.
“Inget. Dulu kita ketemu pas gue lagi ada masalah sama mantan pacar gue, trus Deniar ngenalin gue sama lo, karena menurut Deniar, lo bisa dimintai pendapat tentang hal-hal seperti itu. Setelah itu kita jadi sering ketemu untuk sesi curhat dan akhirnya sering hang out berdua,” jawabnya lancar seperti orang menghafal.
“Hmm...menurut lo kalo dua orang sering curhat bareng, trus hang out bareng, apakah dua orang itu bisa langsung dikatakan berpacaran?” lanjutku sambil mulai menyalakan rokok melengkapi makanan penutup yang baru saja kuhabiskan.
Jane menggelengkan kepala lalu melanjutkan pertanyaannya. “Tapi saat kita dekat dulu, gue ngerasa kalo gue punya perasaan lebih ke lo, begitu juga lo. Saat gue sedih dan mau nangis, gue telepon lo, lo pasti langsung datang ke tempat gue. Lo juga sering meluk gue saat gue butuh rasa nyaman dari pelukan lo. Lo hampir selalu bisa menghibur gue dan selalu ada disamping gue saat gue membutuhkan lo. Kalo bukan pacaran, mana mungkin lo rela melakukan itu semua?” Jane mengatakan alasannya dengan panjang lebar. Aku hanya mengangguk-ngangguk menunggu dia menyelesaikan kalimatnya.
Jane mengikutiku menyalakan batang rokok yang kedua, lalu melanjutkan omongannya. “Apakah saat lo dengan Deniar atau Lia atau dengan yang lainnya, lo juga melakukan hal-hal seperti itu dan menganggapnya hanya sebagai bentuk perhatian seorang sahabat? Sementara dari yang gue tau, kami semua menganggap kalo kami pernah menjadi seseorang yang menempati ruang khusus di hati lo? Mungkin sampai sekarang kami masih memegang kebanggaan sebagai mantan pacar seorang Jo. Dan ternyata lo ga mempunyai anggapan yang sama. Sumpeh, gue jadi bingung... Jangan-jangan memang benar anggapan orang selama ini kalo Jo itu buaya.”
Jane terdiam mengambil napas, dan kugunakan kesempatan itu untuk menjawabnya. “Oke, sekarang giliran gue ngomong ya... Gue ga akan defense, gue cuma berusaha memberikan pandangan gue terhadap pertanyaan lo dari sisi seorang Jo,” sahutku tegas menunggu sampai Jane mengangguk setuju. “Sejak pertama gue dekat dengan seseorang, gue selalu menegaskan kalo gue ga berminat sama sekali sama yang namanya hubungan dengan ikatan. Itu berarti gue memang tidak berminat sama yang namanya pacaran. Semua orang yang kenal gue, tau banget kalo cuma ada satu orang yang pernah jadi pacar gue dan satu orang yang sekarang jadi pacar gue. Gue ga tau ini emang kebetulan atau apa, kalau semua nama yang tadi lo sebut dari Deniar, Lia, dan lain-lain dekat dengan gue karena dimulai dari sesuatu yang dinamakan kesedihan. Mungkin kalian menganggap segala bentuk perhatian gue yang berlebih merupakan perhatian dari gue untuk seseorang yang bisa gue anggap sebagai pacar. Tapi, menurut lo, dengan gue memberikan perhatian pada saat kalian sedang sedih, apakah gue salah? Apakah gue harus diem aja, pura-pura simpati tanpa melakukan apa-apa? Kalian maunya gue bersikap seperti itu?”
Jane menggeleng pelan. “Ya ga gitu, Jo. Cuma gue bingung aja dengan sikap lo yang extra nice ke semua perempuan.”
“Yah, dalam kesempatan ini gue minta maaf deh, kalo kalian salah mengartikan sikap gue.” Kugenggam tangan Jane pasti. “ Jane, gue ga bisa membuat orang lain berpikir bahwa Jo itu baik dan tidak buaya, tapi paling enggak, gue yakin kalo lo ga pernah menganggap gue buaya, karena kalo demikian adanya, lo ga mungkin ada di sini di hadapan gue, makan dan ngobrol selayaknya sepasang sahabat. Ngerti maksud gue?” tanyaku menatapnya penuh harap bahwa dia akan mengerti perkataanku.
Jane mengangguk pasti dan tersenyum “Gue ngerti banget, Jo.” Mata Jane menatapku hangat. “Thanks ya, Jo, karena lo dah mengisi hidup gue dan membuatnya jadi lebih berwarna. Lo emang ga pernah jadi pacar gue, tapi gue yakin, lo akan selalu ada saat gue butuh tempat untuk bersandar. Saat gue butuh sahabat untuk melindungi gue. You’re really my shelter to cry on, Jo. Thanks for being so extra nice to me. Perlahan air mata turun mengalir di pipinya.
Kuambil tisu dan kuhapus air mata itu “Aduh, udah deh, lo ga pantes banget cengeng kaya gini. Ga usah pake nangis deh, ntar gue bener-bener dicap buaya yang bikin cewe patah hati nih.” Kulihat sinar di matanya. Saat itu kami sadar, bahwa hubungan kami memang lebih indah seperti ini. Jane menimpukku dengan tisu bekasnya dan kami kembali bersenda gurau tanpa ada beban yang menggelayuti kami. Kulihat di jendela, senja mengintip seolah melengkapi kegembiraan kami....
Yeah, aku memang bukan orang yang romantis, namun aku berani berjanji...aku akan menjadi a shelter to cry on bagi sahabat yang membutuhkanku....
No comments:
Post a Comment